PTK SD/MI

Penelitian Tindakan Kelas adalah Pekerjaan Guru untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan media/alat peraga atau metode pembelajaran. Tanpa PTK maka guru bisa dikatakan belum profesional. Ayo lakukan dan lakukan PTK di Kelasmu!!!!

Minggu, 04 November 2012

contoh laporan PTK Bahasa .Indonesia




LAPORAN PENELITIAN


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA DENGAN  PENDEKATAN PEMBELAJARAN TERPADU DALAM
 PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ....................................











BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan modern saat ini, penguasaan bahasa tulis bagi seseorang mutlak diperlukan. Namun, dalam kenyataan pembelajaran menulis di sekolah kurang begitu mendapatkan perhatian yang memadai. Akibatnya, keterampilan menulis siswa  kurang memadai.
Ada beberapa penyebab kekurangberhasilan pembelajaran menulis di Sekolah Dasar. Salah satu penyebabnya ialah penyampaian materi yang masih menggunakan pendekatan tidak terpadu. Keempat keterampilan berbahasa (keterampilan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara) ini berdiri sendiri-sendiri, bahkan dianggap sebagai ilmu tersendiri.
Realisasi pembelajaran menulis secara terpadu terikat dua hal, yaitu (1) keseluruhan proses pembelajaran berorientasi pada kebermaknaan dan (2) pembelajaran berorientasi pada pembelajar. Pembelajaran dijadikan fokus utama sebagai pelaku pembelajaran.
Pemikiran mengenai peningkatan kemampuan menulis siswa dengan pendekatan pembelajaran terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia perlu dilakukan penelitian. Dengan demikian, peneliti akan mencoba untuk menerapkan pendekatan pembelajaran terpadu untuk pembelajaran menulis dalam bidang bahasa Indonesia  pada siswa di SD kelas tinggi.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini adalah
1. Apakah penggunaan (penerapan) pendekatan pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa SD kelas tinggi?
2.      Bagaimana pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia siswa SD kelas tinggi dapat berjalan efektif sehingga kemampuan menulisnya meningkat?
3.      Seberapa besar peningkatan kemampuan menulis siswa setelah diterapkan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia?


C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan penelitian umum dan khusus adalah sebagai berikut.
1. Tujuan Umum:
     Tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa SD kelas tinggi  melalui penerapan pendekatan pembelajaran terpadu.



2. Tujuan Khusus:
  Tujuan penelitian khusus ini adalah untuk:
  1. Mengetahui peningkatan kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui penerapan pendekatan pembelajaran terpadu pada siswa SD kelas tinggi.
  2. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia secara efektif melalui penerapan pendekatan pembelajaran terpadu dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa SD kelas tinggi.
  3. Mengetahui seberapa besar  peningkatan kemampuan menulis siswa SD kelas tinggi setelah diterapkan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia

D.    Manfaat Penelitian

1.      Manfaat Teoretis:
Secara teoretis penelitian ini dapat dijadikan acuan pendapat untuk memperkuat teori yang sudah ada. Misalnya teori tentang pendekatan terpadu dalam pembelajaran menulis.
2.      Manfaat Praktis:
Secara praktis hasil penelitian tindakan kelas ini akan bermanfaat untuk siswa, guru, dan lembaga pendidikan yang terkait.

a.      Bagi Siswa:
1)      Tumbuhnya dorongan yang kuat pada diri siswa dalam proses pembelajaran menulis.
   2)  Meningkatnya kemampuan siswa baik aspek kognitif maupun afektif
3)      Dapat menerapkan kegiatan membaca dengan efektif dan efisien.
4)      Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.
5)      Meningkatnya keaktifan siswa dalam belajar khususnya dalam bidang menulis.

b.      Bagi Guru:
1)      Diperolehnya strategi pembelajaran yang tepat untuk materi bahasan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
2)      Menambah keluasan dan kedalaman konsep menulis bagi guru bahasa Indonesia.
3)      Menambah pemahaman tentang pelaksanaan penelitian tindakan kelas sehingga para guru dapat meningkatkan pembelajaran untuk memecahkan segala permasalahan yang ada.
4)      Membantu memperlancar proses pelaksanaan pembelajaran menulis dengan pendekatan pembelajaran terpadu.
5)      Mendorong guru untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas yang lain untuk memperbaiki kinerjanya.



c.       Bagi Lembaga Pendidikan yang terkait:
1)      Tumbuhnya motivasi pengajar/guru dalam mengembangkan proses pembelajaran yang bermutu.
2)      Sebagai masukan untuk melaksanakan perbaikan kebijakan dalam proses belajar mengajar.
3)      Sebagai dokumen untuk pembinaan guru ke depan dalam memperbaiki proses belajar-mengajar umumnya dan pembelajaran menulis pada khususnya.
4)      Tumbuhnya iklim pembelajaran siswa yang aktif di SD.
5)      Meningkatnya kemampuan menulis siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia.



































BAB II
LANDASAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR, DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS

A.    Landasan Teoretis
1.  Kemampuan Menulis
Menulis pada hakikatnya adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang-lambang grafis itu (HG Tarigan, 1983:21).
Sebagai bentuk penuangan gagasan, jenis-jenis tulisan berdasarkan tujuan yang disampaikan ada bermacam-macam. Keraf (1995:6-7) membagi jenis tulisan menjadi lima yaitu (1) eksposisi, (2) argumentasi, (3) persuasi, (4) deskripsi, dan (5) narasi. Selanjutnya dikemukakan bahwa persuasi merupakan varian dari argumentasi.
Gorys Keraf (1984: 8-9) mengemukakan bahwa manfaat menulis, yaitu untuk (1) mengenal diri sendiri, (2) lebih memahami orang lain, (3) belajar mengamati dunia sekitar dengan cermat, dan (4) untuk mengembangkan proses berpikir secara jelas dan teratur.
Dalam proses menulis sekurang-kurangnya mencakup lima unsur, yaitu (1) isi karangan, (2) bentuk karangan, (3) tata bahasa, (4)  gaya, dan (5) ejaan dan tanda baca (Harris, 1974:68).
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses menulis akademik, tahap-tahap menulis meliputi (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan (revisi). Tulisan yang baik mempunyai ciri-ciri (1) mudah, (2) berterima, (3) ekonomis,  (4) tepat, (5) langsung, (6) utuh, dan (7) gramatikal.

2. Penguasaan Struktur Bahasa dalam Menulis
Aspek penguasaan struktur bahasa (gramatikal) merupakan salah satu dari bekal kemampuan menulis. Penguasaan terhadap struktur bahasa berarti kemampuan untuk mengetahui struktur bahasa sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Dalam perkembangan sekarang, struktur bahasa bahkan bukan hanya tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, dan tata makna, melainkan sudah sampai kepada tata wacana.

2. Kaitan Teknik Penulisan dengan Kemampuan Berbahasa dalam Menulis
Teknik penulisan (ilmiah) mempunyai dua aspek, yaitu (1) gaya penulisan (membuat ilmiah) dan (2) teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan yang digunakan dalam penulisan. Komunikasi (ilmiah) harus jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal.
      Dalam penyusunan paragraf, penguasaan kalimat oleh para pembelajar sangat penting karena kalimat merupakan pendukung paragraf yang merupakan dasar pokok karangan. Karangan yang baik terdiri atas susunan kalimat yang baik.

3. Penilaian Tulisan
Dalam menilai suatu tulisan, ada beberapa cara yang digunakan. Madsen (1983:120) membagi cara penilaian karangan menjadi dua, yaitu (1) cara analitik dan (2) cara holistik. Penilaian secara analitik dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat aspek-aspek yang ada dalam karangan. Penilaian holistik dilakukan dengan cara melihat karangan secara menyeluruh dan dalam hal ini yang dipentingkan sifat komunikasinya.

2. Pendekatan Pembelajaran Terpadu
a. Hakikat Pembelajaran Terpadu
Istilah terpadu oleh Nasution (1978: 10) dikaitkan dengan kurikulum terpadu bahwa pembelajaran terpadu ialah pembelajaran yang meniadakan batas-batas berbagai mata pelajaran dalam bentuk unit-unit atau keseluruhan. Kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat membentuk pribadi pembelajar yang terpadu, yaitu manusia yang sesuai dan selaras.

b. Pendekatan Terpadu dalam Pembejaran Bahasa
Pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran berbahasa mempunyai tujuan agar siswa tuntas berbahasa. Semua pendekatan yang dikonsepkan oleh para pakar bahasa bertujuan agar anak didik segera terampil berbahasa dalam penggunaan bahan ajar tertentu (Pateda, 1991: 98).
Istilah pendekatan terpadu dikemukakan oleh Oxford, et al. (1994: 257) bahwa pendekatan terpadu adalah pengajaran keterampilan berbahasa pada membaca, menulis, menyimak, dan berbicara yang satu berhubungan dengan yang lain, pada waktu suatu pengajaran berisi aktivitas-aktivitas yang menghubungkan antara menyimak dan berbicara serta menulis dan membaca dengan penekanan pada kenyataan dan kebermaknaan komunikasi.


  c. Model Pembelajaran Terpadu
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, dan unit tematiknya terdapat beberapa cara merencanakan pembelajaran terpadu. Forgaty (1991: 15) mengajukan beberapa model pembelajaran terpadu, antara lain (1) connected, (2) nested, (3) webbed, dan (4) integrated. 
Dalam pembelajaran menulis diupayakan pada keterampilan berbahasa yang ditunjukkan untuk memahami isi, menggabungkan daya pikir, dan menggabungkan keterampilan sosial.

d.      Model Pembelajaran Terpadu dalam Keterampilan Berbahasa
Teori keterpaduan bahasa, menurut Pappas et al. (1995: 7) didasari oleh tiga prinsip, yaitu (1) pembelajar yang aktif dan konstruktif, (2) bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan tujuan kehidupan sosialnya dalam bermacam-macam bahasa, dan (3) pengetahuan yang diorganisasi dan disusun berdasarkan individu pembelajar melalui intraksi sosial.
Di dalam pembelajaran ini porsi menulis lebih banyak dibandingkan dengan aspek keterampilan yang lain. Pola-pola pembelajaran kemampuan menulis dapat bervariasi, antara lain sebagai berikut.
Menyimak – berdiskusi – menulis
Berdiskusi – menulis - membaca
Menulis – melaporkan – membaca
Membaca – menulis – berdiskusi.

B.     Kerangka Berpikir
Penerapan pendekatan terpadu dalam meningkatkan kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia tersebut dapat dilihat pada skema seperti berikut ini.
    

Gambar 1.  Alur berpikir kaitan penerapan pendekatan pembelajaran terpadu  dengan  pembelajaran menulis

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teorietis dan kerangka berpikir yang dikemukakan pada uraian sebelumnya, hipotesis tindakan yang diajukan adalah sebagai berikut.
1.      Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa SD kelas tinggi  
2.      Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia secara efektif dengan menggunakan pendekatan terpadu dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa.
3.      Peningkatan kemampuan menulis siswa SD kelas tinggi setelah diterapkan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia meningkat lebih baik.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Setting Penelitian
1.  Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini di SD.....kelas ......... Lingkungan sekolah ini termasuk lingkungan pinggiran kota Sala. Namun demikian, masih berada di lingkungan perkotaan.

2. Kondisi Lokasi
Kelas yang digunakan untuk mengadakan PTK adalah kelas ....... Ruang kelas ini menghadap ke selatan  dan depan kelas tersebut terdapat halaman tempat upacara bendera. Ruang kelas ini cukup luas dengan panjang 8 meter dan lebar 8 meter. Berlantai keramik warna putih. Langit-langit terbuat dari asbes bercat putih dan dipasangi sebuah kipas angin (besar) dan 8 buah lampu penerang (neon).

3. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan pada siswa kelas.... Dimulai bulan .... hingga .... 2008 atau selama ...... bulan. Pada bulan-bulan tersebut peneliti mulai aktif di lapangan. Secara rinci kegiatan penelitian tindakan kelas ini disusun jadwal kegiatan seperti berikut ini.









Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
No.
Kegiatan
Bulan 1
Bulan
2
Bulan 3
Bulan
4
Bulan 5
1
Persiapan/penyusunan proposal penelitian
xx




2
Perizinan
x




3
Observasi dan survai
      x




4
Penyusunan instrumen

x



5
Pelaksanaan tindakan dengan siklus I dst.

x
x
x

6
Checking catatan lapangan


  
x

7
Penusunan laporan



x

8
Seminar hasil dan revisi




x
9
Penggandaan dan pelaporan hasil penelitian




   x

B.  Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas ... SD kelas ..., dan guru bahasa dan sastra Indonesia. Siswa kebanyakan berasal dari berbagai daerah. Orang tua mereka kebanyakan bercocok tanam atau petani dan hanya sebagian kecil sebagai PNS, berdagang atau berjualan, dan wiraswasta. Keadaan ini memungkinkan mereka sangat bebas dan cara belajarnya kurang terkontrol sehingga siswa jarang melakukan kegiatan menulis. 
Kelas ini berbeda dengan angkatan/kelas lain, yakni siswanya cukup antusias dalam pembelajaran. Namun, berdasarkan keterangan guru pengampu di semester ini sebagian besar memiliki prestasi cukup dan kemampuan menulisnya tergolong rendah.

C. Prosedur Penelitian
Di dalam sub bab ini akan dipaparkan hal-hal yang menyangkut masalah (1) metode penelitian, (2) siklus , dan (3) prosedur penelitian

1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode ”Classroom Action Research” yang disingkat CAR atau penelitian tindakan kelas (PTK). Siklus action research dalam penelitian tindakan kelas ini dapat  digambarkan (divisualisasikan) sebagai berikut.
Planning
 
                                                                       

 





 Gambar 2. Model Siklus Penelitian Tindakan


2. Siklus Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi beberapa siklus. Banyaknya siklus yang digunakan tergantung hasil refleksi dari siklus sebelumnya yang berdaur ulang dan berkelanjutan dari siklus pertama ke siklus berikutnya.  Setiap siklus meliputi kegiatan perrencanaan tindakan (planning), implementasi tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Siap siklus dilakukan dengan memberikan tindakan pelatihan dengan berbagai penguasaan bahasa yang dikaitkan dengan karangan dan diakhiri dengan praktik menulis atau kegiatan mengarang.

3. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian mencakup: (1) perencanaan tindakan yang akan digunakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi hasil tindakan yang telah dilakukan.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) peristiwa atau kegiatan, yaitu proses kegiatan pembelajaran menulis dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu, (b) pelaku peristiwa, yaitu informan atau nara sumber dari guru bahasa dan sastra Indonesia, dan (c) dokumen berupa kurikulum dan perangkat pembelajaran guru.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan (1) pengamatan, (2) wawancara, dan (3) tes.

4. Analisis Data dan Refleksi
 Teknik analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik analisis kritis dengan dengan mendeskripsikan temuan data dan membandingkannya dengan indikator-indikator kinerja yang sudah ditentukan. Adapun indikator kinerja yang ditentukan apabila ada peningkatan jumlah siswa menguasai gramatika dalam penyusunan karangan (pada kondisi awal) dan apabila ada peningkatan jumlah siswa yang mampu mengorganisasikan isi karangan dengan menggunakan pendekatan terpadu dengan baik pada akhir siklus.















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Uraian mengenai hasil penelitian sebagai jawaban atas perumusan masalah dari bab I akan disajikan di dalam bab IV ini. Namun, sebelum sajian hasil penelitian akan disampaikan terlebih dahulu gambaran kondisi awal tentang kemampuan menulis siswa pada setting penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, pada bab ini akan dikemukakan tentang (1) kondisi awal kemampuan menulis siswa; (2) pelaksanaan tindakan kelas; (3) hasil penelitian; dan (4) pembahasan hasil penelitian.

A.    Kondisi Awal Kemampuan Menulis Siswa
B.      
Sebelum tindakan kelas dilaksanakan langkah yang ditempuh peneliti adalah mengetahui kondisi awal kemampuan menulis siswa. Data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia kelas ...., bahwa data kondisi awal siswa didapat dari dokumen yang berupa nilai kemampuan menulis siswa (nilai ulangan/tugas) semester sebelumnya.
Hasil uji coba menulis siswa kelas A  dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Hasil Uji Coba Kemampuan Menulis
No.
Skala Nilai
Jumlah Siswa
Persentase KM
1
0 - 50
4
10
2
51 - 60
27
67,5
3
61 - 70
8
20
4
71 - 80
1
2,5
5
81 - 100
0
0
Total

40
100

B.                 Pelaksanaan Tindakan Kelas

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi beberapa siklus yang berdaur ulang dan berkelanjutan dari siklus pertama ke siklus berikutnya.  Setiap siklus meliputi kegiatan perencanaan tindakan (planning), implementasi tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Setiap siklus dilakukan dengan memberikan tindakan pelatihan dan diakhiri dengan praktik menulis.

1. Siklus  I (Pertama)
a.Rencana Tindakan
Pada tahap ini peneliti dan guru berkolaborasi untuk menyusun perencanaan pembelajaran atau skenario pembelajaran menulis dengan pendekatan terpadu. Rencana pembelajaran siklus I itu ditetapkan pendekatan terpadu yang pertama yaitu dengan memberikan pelatihan persepsi tentang keterpaduan pembelajaran menulis dengan bidang lain.

b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus pertama ini dilaksanakan mulai tanggal ... 2008. Siklus I ini ada empat pertemuan,  dari empat pertemuan tersebut yang digunakan untuk khusus untuk pembelajaran terpadu dalam keterampilan  menulis dua pertemuan (masing-masing pertemuan 100 menit).
Pola-pola pembelajaran kemampuan menulis dapat bervariasi, antara lain sebagai berikut.
Menyimak – berdiskusi – menulis
Berdiskusi – menulis - membaca
Menulis – melaporkan – membaca
Membaca – menulis – berdiskusi.

c. Observasi (Hasil Tindakan)
Guru dibantu peneliti mencatat pada lembar pengamatan siapa saja yang berhasil dan siapa saja yang belum berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Dikatakan berhasil apabila siswa telah mendapat nilai minimal 75, kurang dari 75 masih dikategorikan hasilnya belum memadai (belum baik). Berdasarkan hasil tugas yang dikerjakan siswa tersebut dapat diketahui bahwa setiap tugas yang dikerjakan hasilnya ada peningkatan yang signifikan dengan kemampuan menulisnya.

Tabel 2. Hasil Penguasaan Struktur Bahasa dalam    Keterampilan Menulis Siswa

No
Rentangan Nilai
Jumlah
   Siswa
Persentasi
           (%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
81 - 100
0
1
11
23
5
0
2,5
27.5
57,5
12,5


40
100

Pada siklus II  ini seperti terlihat di tabel 2 tentang penguasaan struktur bahasa, siswa yang mendapat (1) nilai 0-40 adalah 0%, (2) nilai 41-50 adalah   2,5%, (3) nilai 51-60 adalah 27,5%, (4) nilai antara 61-79 adalah 57,5 %, dan (5) 80-100 adalah 12,5%.

d. Refleksi dan Analisis
Melihat hasil yang belum maksimal tersebut maka pada siklus II perlu dilakukan latihan ulang pelatihan persepsi dan diberi tugas agar berlatih sendiri (tugas terstruktur) di rumah. Hal tersebut akan menjadikan pembelajar lebih efisien apabila siswa melakukan latihan secara terus-menerus. Selain mengulang persepsi penguasaan struktur bahasa (pembentukan kata, frase, dan ungkapan baru), siswa perlu diberi latihan model pelatihan yang lain, yaitu dalam meningkatkan kinerjanya siswa perlu membaca berbagai sumber belajar lagi yang ada kaitan atau relevansinya dengan tema yang diangkat di dalam mengembangkan tulisannya tersebut. 

2.      Siklus II
a.      Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, yang merekomendasikan bahwa hasil penguasaan struktur bahasa dalam kemampuan menulis siswa belum memadai, maka pada siklus II ini perlu disusun rencana tindakan selanjutnya. Pada kegiatan perencanaan ini guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan materi perkuliahan tentang penusunan kalimat efektif termasuk instrumen dan lembar observasi yang akan digunakan untuk pertemuan berikutnya. Peneliti menyiapkan lembar pelatihan persepsi dan lembar observasi.

 b.Pelaksanaan tindakan
1)            Pelatihan ulang
Guru menjelaskan agar siswa dapat tujuan pembelajaran tersebut siswa akan mengulang pelatihan persepsi mengenai penyusunan kalimat efektif di dalam keterampilan menulis mereka khususnya tentang persyaratan kebenaran struktur  (correctness) dan kecocokan konteks (appropriacy) di dalam hasil tulisannya.  
2)            Pelatihan pokok atau kosentrasi
Pelatihan pada siklus II berikut ini adalah mengenai pembelajaran terpadu dalam keterampilan menulis dengan pola ”Menulis-melaporkan-membaca” yang menekankan materi pengembangan kalimat efektif.
3) Praktik Menulis
Teknik pelaksanaan keterampilan menulis di siklus II ini prinsipnya sama dengan pelaksanaan praktik keterampilan menulis sebelumnya, hanya saja keterampilan menulis kali ini ditekankan pada penyusunan kalimat efektif dengan mengikuti persyaratan yang ada. 

  c. Observasi (Hasil Tindakan)
Langkah berikutnya adalah mengulangi pelatihan dan penjelasan mengenai materi berikutnya, yaitu penyusunan kalimat efektif, agar siswa dapat meningkatkan keterampilan menulis.  Pengulangan pelatihan ini sampai tiga kali pertemuan dan setiap tahap selalu ada tugas menulis yang harus dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, siswa disuruh melaporkan kepada guru. Kemudian untuk mengecek hasilnya, siswa disuruh mempresentasikan hasil pekerjaannya.
Pada pertemuan terakhir, siswa diberi tes keterampilan menulis yang menekankan pengembangan paragraf termasuk juga diksi dan penguasaan struktur bahasa. Untuk mengetahui hasil pengembangan paragraf siswa dapat dilihat dalam tabel berikut.


Tabel 2. Hasil Pengembangan Paragraf dalam Keterampilan Menulis

No.
Rentangan Nilai
Jumlah siswa
Persentasi
(%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
81 – 100
0
1
15
20
4
0
2,5
37,5
50
10


40
100

Pada kegiatan pelaporan hasil, kelas memang tampak ramai tetapi dalam suasana yang menyenangkan. Suasana kelas menggambarkan kemauan keras siswa. Mereka kelihatan berusaha untuk memperbaikinya. Hal itu terindikasi dari hasil pelataihan berikutnya yang semakin baik.
Situasi kelas juga menjadi sorotan dalam penelitian ini. Pada kegiatan ini kelas berubah menjadi gaduh karena para siswa sibuk mengoreksi karangan masing-masing. Namun kelas sangat hidup dengan keaktifan siswa. Di samping itu, siswa tampak senang dengan kegiatannya masing-masing.

d. Refleksi dan Analisis
 Hasil tindakan dan analisis ini dilaksanakan terhadap praktik kemampuan menulis siswa dengan pendekatan terpadu dengan pola ”Menulis – melaporkan – membaca”.

3.      Siklus III
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, yang merekondasikan bahwa hasil penguasaan struktur bahasa dalam kaitannya dengan kemampuan menulis siswa belum memadai, maka pada siklus III ini perlu disusun rencana tindakan selanjutnya.

 b. Pelaksanaan tindakan
1)      Pelatihan ulang
Siklus ketiga ini, pertama-tama guru membuka pelajaran dengan memberitahukan kepada siswa tentang kehadiran peneliti di kelas tersebut yaitu akan mengamati kegiatan pembelajaran menulis. Adapun pola pembelajaran terpadu yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis ini adalah pola ”membaca-diskusi-menulis”.
2)      Pelatihan pokok atau kosentrasi
Setelah guru melakukan apersepsi secukupnya kemudian guru memberi tahu kepada siswa tentang tujuan pembelajaran keterampilan menulis pada hari itu. Guru menyebutkan model pelatihan yang akan dilaksanakan. Guru menjelaskan bahwa untuk memperoleh kemampuan menulis yang tinggi dan penguasaan perangkat penulisan yang baik seseorang harus berkonsentrasi.
3) Praktik Menulis
Teknik pelaksanaan keterampilan menulis di siklus III ini prinsipnya sama dengan pelaksanaan praktik keterampilan menulis sebelumnya, hanya saja keterampilan menulis kali ini ditekankan pada penguasaan teknik penulisan.  Pelaksanaan pembelajaran menulis ini dipadukan dengan hasil diskusi tentang bagaimana penerapan teknik penulisan (gaya penulisan dan bahasa yang digunakan dalam penulisan) di dalam keterampilan menulisnya. Alokasi waktu yang diperlukan untuk tes keterampilan menulis ini disediakan waktu selama 90 menit.

  c. Observasi (Hasil Tindakan)
Langkah berikutnya adalah mengulangi pelatihan dan penjelasan mengenai materi berikutnya, yaitu teknik penulisan, agar siswa dapat meningkatkan keterampilan menulis.  Pengulangan pelatihan ini sampai tiga kali pertemuan dan setiap tahap selalu ada tugas menulis yang harus dikerjakan siswa. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, siswa disuruh melaporkan kepada guru. Kemudian untuk mengecek hasilnya, siswa disuruh mempresentasikan hasil pekerjaannya.
.   Untuk mengetahui perkembangan penguasaan struktur bahasa (gramatika) siswa dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Penguasaan Teknik Penulisan dalam Keterampilan Menulis

No.
Rentangan Nilai
Jumlah siswa
Persentasi
(%)
1
2
3
4
5
0 – 40
41 – 59
60 – 69
70 – 80
81 – 100
0
0
9
20
11
0
0
22,5
50
27,5


40
100

Situasi kelas juga menjadi sorotan dalam penelitian ini. Kelas yang biasanya tenang, pasif, berubah menjadi kelas yang aktif-dinamis.

d. Refleksi dan Analisis
 Pelatihan dalam siklus III ini ternyata siswa belum semua secara maksimal dapat meningkatkan kemampuan menulisnya, tetapi sudah lebih baik dan meningkat dari hasil sebelumnya. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan teknik penulisan dan penguasaan struktur bahasa sudah baik (31 orang dari 40 siswa atau sekitar 77,5%).
Melihat hasil yang maksimal tersebut maka pada siklus III berarti indikator atau tujuan pembelajaran tersebut sudah tercapai.



    1. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kemampuan menulis merupakan sebuah kompetensi dasar dalam Kurikulum SD KELAS TINGGI dan sebuah tuntutan zaman. Oleh karena itu, kemampuan menulis perlu diajarkan sebaik mungkin.
Di dalam pendekatan terpadu untuk kemampuan menulis, peneliti menggabungkan beberapa model pembelajaran keterampilan berbahasa ini. Dalam pembelajaran yang dilakukan ditekankan materi pembelajaran menulis dengan pengembangan topik dan pemberian tugas-tugas pada setiap materi tertentu.
Realisasi pembelajaran kemampuan menulis secara terpadu terikat dua hal, yaitu (1) keseluruhan proses pembelajaran berorientasi pada kebermaknaan dan (2) pembelajaran berorientasi kepada pembelajar. Di dalam pembelajaran ini porsi menulis lebih banyak dibandingkan dengan aspek keterampilan yang lain. Pola-pola pembelajaran kemampuan menulis dapat bervariasi.
Realisasi pembelajaran kemampuan menulis secara terpadu terikat dua hal, yaitu (1) keseluruhan proses pembelajaran berorientasi pada kebermaknaan dan (2) pembelajaran berorientasi kepada pembelajar.
Siklus I menerapkan pola pembelajaran dengan ”Diskusi-menulis-membaca”. Hasil tes menulis dengan menekankan penguasaan struktur bahasa dalam meningkatkan kemampuan menulis tersebut dapat diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai antara 0-40 tidak ada seorang pun, sedangkan yang mendapat nilai antara 41-59 ada 1 orang, nilai antara 60-69 ada 14 orang, nilai antara 70-80 ada 16 orang, dan nilai antara 81-100 sebanyak 5 orang siswa. Nilai rata-rata siswa sebesar 65. Hasil yang dicapai siswa tersebut belum memenuhi tujuan yang diharapkan. Kenyataan menunjukkan bahwa pemberian bimbingan belajar dalam pengembangan menulis  dan bombongan dari guru perlu diberikan agar siswa memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki terhadap hasil menulisnya juga ikut membatu keberhasilan tulisannya.
Pembelajaran berikutnya guru harus mampu mengaktifkan siswa agar kelas dapat lebih maju dan guru harus membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis. Pelatihan dalam siklus I ini ternyata siswa belum secara maksimal dapat meningkatkan kemampuan menulisnya. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan penguasaan struktur bahasa belum memadai atau masih sedang (23 orang atau 57,5%). Dengan demikian, dalam meningkatkan kemampuan menulis pada siklus selanjutnya, penguasaan struktur bahasa masih perlu ditekankan  atau diperhatikan lagi, khususnya pada bagian pembentukan kata, frasa, dan ungkapan baru yang masih minim.
Guru menyampaikan indikator (tujuan pembelajaran). Indikator pembelajaran yang diharapkan adalah para siswa mampu melaksanakan pelatihan dengan baik tentang bagaimana penyusunan kalimat efektif dalam karangan/menulis hingga dapat mencapai target kemampuan menulis (KM) sebedar 75%. Adapun pola pembelajaran terpadu yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis ini adalah pola ” menulis-melaporkan membaca”.
Akhir siklus II, siswa diberi tes keterampilan menulis. Dari hasil tes keterampilan menulis yang menekankan persyaratan kalimat efektif yang meliputi kebenaran struktur (correctness) dan kecocokan konteks (appropiacy) oleh  siswa tersebut nilai terendah yang dicapai siswa adalah 54 dan nilai tertinggi 83, sedangkan nilai rata-rata tes 65. Hal ini tampak pada perolehan hasil menulisnya kaitannya dengan penyusunan kalimat efektif sudah baik (24 orang dari 40 siswa telah mencapai nilai tersebut 70 atau nilai rata-rata 72%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berdasarkan hasil tes keterampilan menulis siswa tersebut sudah lebih baik dari hasil tes sebelumnya. Dengan perkataan lain bahwa kemampuan menulis dengen menekankan penguasaan struktur bahasa siswa setelah diadakan pelatihan ulang hasilnya meningkat lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pada siklus III,   Pada pertemuan terakhir, siswa diberi tes keterampilan menulis yang menekankan teknik penulisan termasuk juga penguasaan struktur bahasa. Hal ini untuk memperoleh masukan apakah setelah diadakan pelatihan selama tiga pertemuan siswa sudah menguasai teknik penulisan dan gramatika atau struktur bahasa dalam meningkatkan kemampuan menulisnya tersebut.  Melihat hasil yang maksimal tersebut maka pada siklus III berarti indikator atau tujuan pembelajaran tersebut sudah tercapai, berarti sudah tidak  perlu lagi dilakukan latihan ulang pelatihan persepsi dalam dalam pembelajaran keterampilan menulis dengan pendekatan terpadu  untuk penelitian ini. Hal tersebut akan menjadikan pembelajar lebih efisien apabila siswa melakukan latihan secara terus-menerus.























BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

  1. Simpulan
Simpulan yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan (penerapan) pendekatan pembelajaran terpadu di dalam pembelajaran kemampuan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia ternyata dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa. Hal ini terindikasi dari adanya peningkatan perolehan kemampuan menulis (KM) yang rendah meningkat ke KM yang lebih tinggi.
2. Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia berjalan efektif dalam menerapkan pendekatan terpadu dapat mensinergikan antara kemampuan fisik dan kemampuan psikis sehingga kemampuan menulisnya meningkat.
3.      Peningkatan kemampuan menulis siswa SD KELAS TINGGI setelah diterapkan pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pada kondisi awal perolehan nilai KM adalah 57,5%. Pada siklus I perolehan  KM tertinggi  adalah 65%. Pada siklus II perolehan nilai tertinggi  72%, sdangkan perolehan nilai tertinggi pada siklus II adalah 77,5%.


  1. Implikasi Penelitian
Pendekatan terpadu yang diterapkan pada orientasi pembelajaran pada siswa tidak sekadar memberikan fakta atau konsep sebanyak-banyaknya, tetapi lebih berfokus pada proses sampai siswa menemukan konsepnya. Pembelajaran yang berpusat pada siswa ini memungkinkan siswa menyelidiki sendiri berbagai hal yang selanjutnya berguna bagiperkembangan intelektual dan mental mereka.
Penekanan dalam proses menulis ádalah apa-apa yang dipikirkan dan dikerjakan pembelajar pada waktu mereka menulis. Ini berbeda dengan menulis yang dilakukan berdasarkan pembelajaran dari guru, yang disebut menulis kreatif. Pembelajaran yang berorientasi dari guru tersebut yang dipentingkan ádalah hasil akhir tulisan siswa.
Peningkatan keterampilan menulis siswa yang lain hádala menyusun dan mengembangkan paragraf atau karangan. Kegiatan yang diperlkan meliputi (1) menjelaskan pemarkah paragraf yang baik, (2) menjelaskan metode pengembangan paragraf, dan (3) berlatih mengembangkan paragraf berdasarkan gagasan pokok tertentu dengan penalaran induktif, deduktif, ataupun gabungan keduanya. Di samping itu, juga meninkatkan kemampuan dalam menganalisis dan membetulkan salah nalar yang terdapat dalam karangan. Untuk itu siswa perlu diperkenalkan jenis-jenis salah nalar dan melatih menganalisis kesalahan nalar dalam karangan.
Pembelajaran keterampilan menulis merupakan bagian dari mata kuliah keterampilan berbahasa Indonesia yang wajib diikuti siswa dan bertujuan agar siswa dapat menulis atau membuat karangan dengan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahasa yang baik ádalah bahasa yang penggunaannya sesuai dengan situasi berbahasa, sedangkan bahasa yang benar hádala bahasa yang penggunaannya mengikuti kaídah-kaidah atau aturan-aturan yang telah dibakukan serta sesuai dengan gagasan yang disampaikan.
Agar pembelajaran keterampilan menulis dapat berhasil dengan baik, diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat mengembangkan daya nalar dan kreativitas siswa. Penyajian materi yang dapat merangsang siswa untuk menulis secara kreatif dan bernalar dengan baik merupakan tujuan pokok pembelajaran menulis di perguruan tinggi.
Pemberian latihan yang banyak dalam aplikasi pengembangan topik dapat memancing daya creativitas siswa untuk mengekspresikan ilmunya sehingga mereka akhirnya mampu mengembangkan apa yang mereka peroles pada waktu kuliah ke dalam kancah keilmuan lapangan. Latihan yang terus-menerus yang didasari atas topik-topik yang bervariasi dapat mempersiapkan mereka untuk dapat mengatasi masalah yang dapat dikomunikasikan lewat tulisan.
Upaya-upaya yang lain dalam rangka meningkatkan keterampilan menulis dengan cara menugasi siswa mencari berbagai wacana yang tersebar dalam berbagai media massa. Dari situ siswa diminta untuk memberikan komentar, di samping tingkat keutuhan karangan dan aspek-aspek kebahasaan lain yang digunakan. Tugas ini memberikan kontribusi yang cukup besar dalam rangka meningkatkan keterampilan menulis, karena dengan semakin banyak mereka membaca maka semakin banyak pula pandangan-pandanan yang dapat memperkaya pemahamannya atas keutuhan sebuah tulisan.
Dengan upaya-upaya ini, maka di samping akan terjadi peningkatan terhadap kemampuan penalaran siswa dan penguasan kebahasaan mahaiswa, juga secara langsung dapat meningkatkan keterampilan menulisnya. Oleh karena itu, seseorang guru harus menyadari penuh terhadap tanggung jawab ini. Perlu diketahui bahwa kemampuan menulis siswa yang sangat penting tersebut dapat ditingkatkan melalui penguasaan kebahsaan yang dipelajari dan kemampuan penalarannya. Dengan upaya tersebut diharapkan dapat menghapuskan anggapan tentang rendahnya keterampilan menulis siswa.
Untuk dapat menyusun paragraf dengan bai, siswa harus memahami pemarkah paragraf yang baik, yaitu keutuhan, perpautan, dan keterkembangan. Keutuhan berkaitan dengan tema paragraf. Kalimat-kalimat dalam paragraf harus bersama-sama digerakkan untuk menopang tema atau gagasan pokok paragraf. Perpautan paragraf diwujudkan melalui hubungan timbal balik antarkalimat yang membentuk paragraf itu. Untuk itu, penulis harus memperhatikan masalah kebahasaandan rincian serta urutan isi paragraf. Keterkembangan paragraf mengacu pada kecukupan rincian guna menopang gagasan pokok paragraf.
Apabila keterampilan menulis akan dimanfaatkan dalam pembelajaran aspek penalaran dalam berbahasa di SD KELAS TINGGI FKIP UNS, aspek strategi, metode, pendekatan, dan penyampaianya pun harus disesuaikan dengan tujuan dan materi kuliah. Selain itu, perlu diarahkan pada kemampuan penalaran ada pengenalan serta memperkaya berpikir secara logis dan analitis dalam berbahasa melalui aspek keterampilan berbahasa yang lain. Di samping  itu, juga menerapkan pola-pola penalaran, yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif melalui aspek keterampilan berbahasa Indonesia.     

  1. Saran
Berdaarkan simpulan dan implikasi yang telah dikemukakan tersebut dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.
            Pertama, siswa disarankan agar terus-menerus berlatih menulis agar dapat meningkatkan keterampilan menulisnya. Semakin banyak berlatih menulis, siswa akan semakin lancar dan mudah di dalam mengungkapkan atau menyampaikan buah pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapatnya dalam bentuk bahasa tulis kepada orang lain.
Kedua, di dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa, para guru hendaknya menunda terlebi dahulu tugas mengarang secara bebas  untuk itu program menyusun karangan terarah perlu diberikan kepada siswa. Salah satu wujud komposisi terarah adalah pemberian latihan menganalisis aspek-aspek kebahasaan dan teknik penulisan. Aspek-aspek karangan yang menjadi focus bagi kegiatan menyusun karangan terarah itu dapat bersifat tunggal (misalnya, ejaan atau tanda baca atau pengorganisasian paragraf), tetapi dapat mencakup beberapa aspek karangan sekaligus. Hasil dari pemberian program latihan itu adalah makin meningkatnya kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan.
            Ketiga,   bagi pengajar ketrampilan berbahasa Indonesia di program SD KELAS TINGGI hendaklah mengajarkan materi keterampilan berbahasa (ketrampilan berbicara, menyimak, membaca, dan menulis) diberikan dalam satu kesatuan (terpadu) karena pada keempat keterampilan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Keempat,  pengajar keterampilan berbahasa Indonesia di dalam membelajarkan keterampilan menulis lebih banyak menekankan pada aspek-aspek kebahasaan, mengingat selama ini sebagian pengajar lebih menekankan kepada factor keindahandan kebenaran bentuk tulisan dalam mengoreksi karangan siswa. Penilaian yang lebih menitikberatkan pada bentuk penulisan tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran menulis yang hendak dicapai, yaitu agar siswa mampu berkomunikasi dengan bahasa tulis.














DAFTAR PUSTAKA




















5 komentar: