PTK SD/MI

Penelitian Tindakan Kelas adalah Pekerjaan Guru untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan media/alat peraga atau metode pembelajaran. Tanpa PTK maka guru bisa dikatakan belum profesional. Ayo lakukan dan lakukan PTK di Kelasmu!!!!

Jumat, 25 April 2014

Contoh PTK/ SMP Bahasa Indonesia


Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Ringkasan dari Laporan Penelitian Tindakan Kelas:

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA KELAS VII D SMPN 1 Meong Congkok  DALAM MENGGUNAKAN EJAAN DAN TANDA BACA SECARA BENAR MELALUI LATIHAN IDENTIFIKASI DAN KOREKSI KESALAHAN SECARA INTENSIF PADA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 20  /20


1.   Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Dari observasi kelas dan refleksi guru, diperoleh kenyataan bahwa siswa belum memahami penggunaan ejaan dan tanda baca dengan benar.  Menurut Hastuti (1976), ada berbagai kemungkinan penyebab terjadinya kekurangpahaman siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca.  Mungkin karena kurangnya pemberian latihan yang cukup. Atau barangkali siswa secara sengaja tidak peduli akan pentingnya pengetahuan aturan penulisan ejaan dan tanda baca yang benar.  Kemungkinan lain disebabkan ada di antara para guru yang salah dalam menggunakan ejaan dan tanda baca di dalam menyampaikan pelajaran sehingga dicontoh oleh para siswa.

-      Identifikasi masalah

Permasalahan pokok yang dibahas dalam penelitian ini adalah ”Apakah penggunaan metode latihan identifikasi dan koreksi kesalahan secara intensif dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VII D SMP Negeri I Semanu Gunungkidul dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar?”

Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar melalui penelitian tindakan kelas.  Diharapkan, dengan menggunakan metode latihan identifikasi dan koreksi kesalahan secara intensif, keterampilan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar akan meningkat.

-      Rumusan Masalah
Dalam melakukan penelitian tindakan kelas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah melalui latihan identifikasi dan koreksi kesalahan secara intensif dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas VII D SMPN 1 Gunung Kidul dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar pada semester genap tahun pelajaran 2007/2008?

1.2. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan penelitian ini adalah ”Untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII D SMPN 1 Semanu Gunung Kidul dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar melalui latihan identifikasi dan koreksi kesalahan secara intensif”.

1.3. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Adapun manfaat penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
a.   Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menulis, mengasah imajinasi, memupuk kreativitas, dan meningkatkan prestasi belajar.
b.   Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar dan meningkatkan kemampuan dasar guru dalam menerapkan pembelajaran Bahasa Indonesia.







2.   Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
2.1. Subjek Penelitian
Siswa yang diteliti adalah siswa kelas VII D SMPN 1 Gunungkidul semester 2 tahun pelajaran 2007/2008. Kelas VII D SMPN 1 Semanu Gunungkidul berjumlah 38 siswa, terdiri dari 19 putra dan 19 putri.  Kemampuan menulis rata-rata masih rendah.  Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Jawa.  Keadaan sosial ekonomi orangtua siswa rata-rata menengah ke bawah.  Tempat tinggal siswa kebanyakan berasal dari luar kota atau pelosok yang umumnya orang tuanya bekerja sebagai petani.  Hal inilah yang menyebabkan motivasi belajar siswa juga rendah.

SMPN 1 Semanu Gunung Kidul terletak di sebelah barat Kantor Kecamatan Semanu Gunungkidul.  Tepatnya berada di jalur Wonosari – Baran, km. 7.  Letaknya sangat strategis.  Sebelah barat pasar Munggi, selatan Kali Jirak yang terkenal dengan nasi merahnya, sebelah timur Kantor Polsek dan Koramil Kecamatan Semanu Gunungkidul dan Puskesmas Semanu.

Fasilitas SMPN 1 Semanu Gunung Kidul cukup memadai, di antaranya adalah Lab. Komputer, Lab. IPA, internet, dan sebentar lagi Lab. Bahasa yang baru dalam proses pengusulan.  Semua bangunan terdiri dari gedung yang masih baru, ruang kelas representatif dan diampu oleh guru-guru mata pelajaran yang sudah berpengalaman dan berijazah sarjana yang relevan di bidangnya. 

Peneliti adalah guru mata pelajaran  Bahasa Indonesia yang sudah mengajar selama 14 tahun.  Pernah mengajar di SMPN 1 Saptosari Gunungkidul selama 6 tahun (1994-2000), kemudian pindah ke SMPN 1 Semanu Gunungkidul dari tahun 2000 sampai sekarang. Pendidikan terakhir adalah DIII Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.









 
2.2. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mengikuti model PTK klasikal yang telah disesuaikan untuk perbaikan pengajaran dalam Bahan Belajar Mandiri BERMUTU.

a.   Identifikasi Masalah dan Perencanaan Tindakan
Masalah diidentifikasi bersama-sama dengan rekan sejawat guru berdasarkan studi kasus yang ditulis guru.  Studi kasus ini secara naratif dan detil menjelaskan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru, serta refleksi oleh guru. Dari studi kasus, diidentifikasi bahwa guru merasa kesulitan dalam mengajarkan ejaan dan tanda baca kepada siswa, dan pencapaian hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan diskusi dengan rekan sejawat guru dan juga dari beberapa pustaka, tindakan yang dipilih guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar tersebut adalah dengan memberikan latihan yang lebih banyak kepada siswa.

Selanjutnya guru membuat perencanaan tindakan, terdiri dari penyusunan RPP untuk kegiatan belajar mengajar (lampiran 1), mempersiapkan bahan belajar dari berbagai sumber (lampiran 2), mengembangkan latihan dan butir soal untuk evaluasi hasil belajar (lampiran 3), menyiapkan lembar observasi (lampiran 4), meminta dua orang rekan guru untuk melakukan observasi kegiatan belajar, serta membuat denah kelas (lampiran 5) untuk memudahkan pelaksanaan observasi.


b.   Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan dalam dua siklus. Dalam sau siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Satu kali pembelajaran terdiri dari 2 jam pelajaran. 

Siklus 1 dimulai dengan pembukaan oleh guru, kemudian guru meminta siswa untuk duduk berpasang-pasangan dengan teman yang telah ditentukan guru. Selanjutnya guru menjelaskan tentang penggunaan ejaan dan tanda baca, dan memberi latihan untuk menyalin catatan wawancara menjadi wacana naratif untuk penggunaan ejaan dan tanda baca secara berurutan. Siswa terlibat dalam rembug sejoli untuk saling memeriksa hasil kerjanya. Kemudian, hasil kerja siswa dibahas secara umum oleh guru dalam kelas. Selanjutnya, kegiatan belajar ditutup dengan postes 1 yang dikerjakan oleh siswa.

Siklus 2 dilaksanakan kurang lebih sama dengan siklus satu. Untuk siklus 2, penjelasan yang diberikan guru berfokus pada teknik merumuskan masalah dari satu catatan wawancara, dan membuat narasi dari catatan wawancara tersebut berdasarkan topik permasalahan. Kemudian, siswa berlatih untuk menarasikan catatan wawancara berdasarkan topik permasalahan yang telah diidentifikasi dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang benar.  Siklus 2 ditutup dengan postes 2 dan rangkuman oleh guru dan siswa tentang hal-hal yang telah dipelajari.

Sementara siklus 1 dan 2 berlangsung, 2 orang rekan guru melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah tersedia. Hasil observasi berupa data tentang proses belajar, situasi kelas, dan masalah yang dihadapi siswa (secara otentik berdasarkan nama siswa).

Setelah kegiatan belajar berakhir, guru menuliskan refleksi dari pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya.

c.   Pengumpulan data dan analisis data
Data dikumpulkan dari hasil observasi rekan guru dengan menggunakan lembar observasi yang tersedia, dan dari tes hasil belajar (pretes dan postes) pada saat pelaksanaan tindakan selama 2 siklus, serta refleksi diri yang dilakukan guru terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan sebanyak 2 siklus.

Analisis data dilakukan terhadap dua jenis data, yaitu data kualitatif berupa catatan hasil observasi guru serta catatan refleksi guru, dan data kuantitatif berupa skor pretes dan postes hasil belajar siswa.

Untuk data kualitatif dicari key point dan juga informasi tambahan dari hasil observasi, kemudian dirangkum hal-hal inti yang perlu memperoleh perhatian dalam proses pembelajaran.  Untuk data kuantitatif dicari gain score (skor perolehan antara) postes 1 dan 2.  Hasil analisis keduanya kemudian dirangkum dan disimpulkan.

d.   Refleksi dan Tindak Lanjut
Hasil analisis data kualitatif dan kuantitatif beserta kesimpulannya didiskusikan guru dan rekan sejawat dalam pertemuan refleksi untuk mengkilas balik hal-hal yang sudah terjadi, kendala, dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar yang sudah dilaksanakan.

Guru mencatat masukan dan saran yang didiskusikan, kemudian membuat rencana perbaikan pembelajaran berikutnya berdasarkan masukan.


e.   Pelaporan
Dengan mengacu pada proposal, penulisan laporan dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai aspek dan kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam proses perbaikan pembelajaran, pengumpulan data, serta analisis data.  Laporan ditulis menggunakan format yang ditetapkan, dan menjelaskan secara rinci permasalahan, rencana perbaikan, pelaksanaan perbaikan, hasil yang diperoleh, dampak dari solusi pemecahan masalah, serta kesimpulan dan saran. 

3.   Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil Analisis Data
Analisis data dilakukan terhadap tiga kelompok data, yaitu data hasil observasi rekan sejawat, data refleksi guru, dan dan hasil belajar siswa difokuskan pada dua hal utama, yaitu situasi kelas dan prestasi belajar siswa.

a.   Situasi Kelas
Selama pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, dengan mengacu pada RPP dibandingkan dengan hasil observasi, dicatat beberapa kejadian penting, antara lain:
-      Pada saat pembentukan kelompok siswa tidak segera melaksanakan tugas tapi malah membuat kegaduhan, mondar-mandir, mengobrol, sehingga menyita waktu 10 menit.
-      Selama pelaksanaan kegiatan belajar mengajar kegaduhan kelas mulai berkurang, tetapi masih ada kekurangan, yaitu aktivitas siswa tidak merata, kerjasama kelompok sebagaian ada yang belum kompak, masih ada siswa yang pasif dan masa bodoh.
Hasil observasi kelas menyatakan bahwa ada kelebihan dari tindakan perbaikan ini antara lain: siswa mulai termotivasi untuk belajar, siswa secara aktif dan penuh kesungguhan mengerjakan tugas yang diberikan guru, bila diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi atau hasil pelaksanaan latihan siswa berlomba-lomba mengacungkan jari terlebih dahulu, siswa mulai berani tampil di depan kelas, siswa mulai berani mengajukan usul, pertanyaan dan saran.


b.   Prestasi Belajar Siswa
Dalam penelitian ini diterapkan ketuntasan belajar secara individual, dengan kriteria minimal 65.  Sementara itu, secara klasikal dinyatakan tuntas apabila siswa yang nilainya sudah tuntas mencapai 85% dari jumlah keseluruhan siswa.

Data prestasi belajar siswa diperoleh dari nilai yang siswa pada postes 1 dan postes 2. Perbandingan nilai postes 1 dan postes 2  dari 2 siklus perbaikan pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.



Tabel 1.  Perolehan Nilai Tes Sebelum dan Sesudah Perbaikan


Nilai Postes 1
(Sebelum Perbaikan)
Nilai Postes 2
(Setelah Perbaikan)
No
Nilai
n
No
Nilai
n
1.    
100
2
1.   
100
8
2.    
95
-
2.   
95
2
3.    
90
4
3.   
90
9
4.    
85
4
4.   
85
2
5.    
80
4
5.   
80
5
6.    
75
5
6.   
75
3
7.    
70
3
7.   
70
3
8.    
65
4
8.   
65
-
9.    
60
7
9.   
60
4
10.  
55
4
10.  
55
2
11.  
50
1
11.  
50
-
Jumlah siswa
38
Jumlah siswa
38
Rata-rata skor
72,50
Rata-rata skor
83,03


Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan:
-      Secara individu:
o   Banyaknya siswa = 38
o   Siswa tuntas belajar ada 30 siswa
o   Persentase siswa yang telah tuntas = 30:38 x 100% = 78,94%
o   Siswa yang belum tuntas ada 8 siswa, persentase siswa yang belum tuntas = 8:38 x 100% = 21,05%.
-      Secara klasikal
o   Siswa belum tuntas belajar karena menurut standar ketuntasan belajar secara klasikal harus mencapai 85%, sedangkan pencapaian hasil belajar setelah siklus 1 baru mencapai 78,94%, sehingga untuk mencapai ketuntasan klasikal masih kurang 6,06%.
o   Rata-rata skor sebelum perbaikan = 72,50
o   Rata-rata skor setelah perbaikan = 83,03
o   Gain skor (perolehan nilai) rata-rata = 10.53



 
Dari data tersebut diperoleh informasi bahwa terjadi peningkatan pencapaian hasil belajar oleh siswa, tetapi belum mencapai tingkat ketuntasan sebagaimana telah ditetapkan.  Proses pembelajaran kemudian dikaji ulang untuk menentukan sebab-sebab ketidaktuntasan, padahal terjadi peningkatan hasil belajar siswa.

Data tambahan: dari 3 latihan menggunakan ejaan, yaitu mengubah teks wawancara menjadi teks narasi, terlihat kesalahan siswa sebagai berikut.

Tabel 2. Kesalahan Siswa dalam Penggunaan Ejaan pada Siklus I

Kesalahan sebelum perbaikan
Kesalahan sesudah perbaikan
No.
Jumlah kesalahan
Jumlah Siswa
No.
Jumlah kesalahan
Jumlah Siswa
1.     
Tidak ada yang salah
2
1.     
Tidak ada yang salah
13
2.     
1 kesalahan
0
2.     
1 kesalahan
2
3.     
2 kesalahan
2
3.     
2 kesalahan
1
4.     
3 kesalahan
4
4.     
3 kesalahan
2
5.     
4 kesalahan
5
5.     
4 kesalahan
6
6.     
5 kesalahan
2
6.     
5 kesalahan
1
7.     
6 kesalahan
1
7.     
6 kesalahan
2
8.     
7 kesalahan
0
8.     
7 kesalahan
2
9.     
8 kesalahan
3
9.     
8 kesalahan
3
10.   
9 kesalahan
4
10.   
9 kesalahan
2
11.   
10 kesalahan
4
11.   
10 kesalahan
2
12.   
11 kesalahan
3
12.   
11 kesalahan
1
13.   
12 kesalahan
6
13.   
12 kesalahan
1
14.   
13 kesalahan
2
14.   
13 kesalahan
0




3.2. Refleksi
-     Perbaikan pembelajaran sudah tercapai karena diperoleh gain skor rata-rata 10,53 dari sebelum perbaikan pembelajaran dan sesudah perbaikan pembelajaran.
-     Namun, belum diperoleh ketuntasan pembelajaran, karena ada 8 siswa yang belum tuntas secara individual, yaitu 21,05%.
-     Diperkirakan ketidaktuntasan disebabkan karena kurangnya latihan, dan terlalu banyak waktu yang digunakan untuk membagi kelompok. 
-     Untuk pembelajaran berikutnya, latihan akan diperbanyak menjadi 5 soal, dan waktu pembagian kelompok dikurangi menjadi 5 menit saja.

4.   Kesimpulan dan Rekomendasi
4.1. Kesimpulan
Metode mengajar dengan menerapkan pola latihan dan koreksi kesalahan secara intensif ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.  Terjadi peningkatan perolehan nilai siswa setelah dilakukan perbaikan pembelajaran.
 Saran dituliskan secara ringkas, menjelaskan kontribusi penelitian ini terhadap penelitian  atau perbaikan pembelajaran berikutnya, atau konfirmasi terhadap teori.

4.2. Saran
o   Dalam melakukan pola latihan dan koreksi kesalahan perlu diberikan porsi latihan yang cukup, sehingga dapat meningkatkan perolehan nilai siswa juga mencapai ketuntasan belajar.
o   Pengelolaan waktu untuk pendahuluan dan hal-hal administratif, misalnya membagi kelompok, dalam kelas perlu memperoleh perhatian, sehingga waktu belajar tidak habis untuk hal-hal administratif.

5.   Daftar Kepustakaan
  • Hastuti, S. 1976. Metodologi Pengajaran Bahasa.  Yogyakarta: Gajah Mada University
  • Kartowagiran, B. 2005. Pengertian dan Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas.  Yogyakarta: Satker Pembinaan PLP.
  • Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1980. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.  Jakarta: Balai Pustaka.
  • Wardani, IGAK. 2001. Sistem Pembelajaran Bahasa Indonesia.  Jakarta, Universitas Terbuka