PTK SD/MI

Penelitian Tindakan Kelas adalah Pekerjaan Guru untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan media/alat peraga atau metode pembelajaran. Tanpa PTK maka guru bisa dikatakan belum profesional. Ayo lakukan dan lakukan PTK di Kelasmu!!!!

Senin, 22 Oktober 2012

contoh proposal PTK


 
PROPOSAL
A.  Judul  : Penggunaan alat peraga untuk meningkatkan penguasaan siswa tentang jenis-jenis hewan yang mendekati kepunahan dalam pelajaran IPA kelas VI SDN MEONG CONGKOK
B.     Pendahuluan
 Latar Belakang Masalah
                 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban baHngsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
          Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 (Th. 2003:2), tercantum tentang pengertian pendidikan sebagai berikut:
    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
       
Dalam  kegiatan pembelajaran khususnya bidang studi IPA untuk pokok bahasan jenis jenis hewan langka, yang telah dilaksanakan di kelas 6 SD Negeri MEONG CONGKOK Kec Ganggarangan Kabupaten Majalengka, telah dilakukan kegiatan pembelajaran. Namun dalam analisis pencapaian hasil pembelajaran yang merujuk pada  pemerolehan nilai belajar, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini dibuktikan dari data perolehan nilai hasil belajar yang telah dilaksanakan, dengan hasil analisis yang menunjukkan bahwa perolehan rata-rata kelas yang masih di bawah Kriteria Ketuntsasan Minimal (KKM).
        Adapun meninjau dari hasil pengamatan/observasi yang didapat dari rekan sejawat, ditemukan beberapa masalah, di antaranya:
1.      Kelompok mata pelajaran eksak (IPA), yaitu:
a.       Dalam kegiatan pembelajaran, aktifitas siswa cenderung pasif sehingga pembelajaran tampak membosankan.
b.      Pemanfaatan media pembelajaran yang kurang maksimal, sehingga dalam penafsiran konsep IPA yang sifatnya abstrak kurang terakomodasi.
            Meninjau evaluasi hasil pembelajaran yang dilakukan pada tanggal 18 Februari 2011 sampai 3 maret 2011 untuk mata pelajaran IPA, , dan diskusi dari hasil pengamatan dengan rekan sejawat, serta refleksi dari hasil pembelajaran, diperoleh gambaran bahwa dalam kegiatan pembelajaran  masih cenderung pasif sehingga kurang melibatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran. Serta penggunaan media yang kurang efektif sehingga siswa tampak kesulitan dalam menafsirkan konsep yang sedang dipelajari, pada mata pelajaran IPA
Merujuk pada pemaparan di atas mengenai gambaran umum hasil pembelajaran, maka dapat disimpulkan adanya beberapa permasalahan diantaranya:
1.      Untuk bidang studi eksak (IPA), diantaranya:
a.       Pemahaman siswa terhadap materi ajar relatif kurang.
b.      Suasana pembelajaran tampak membosankan.
c.       Penggunaan  media masih belum maksimal.
d.      Nuansa pembelajaran kurang variatif.
      Analisis Masalah
Setelah melakukan identifikasi terhadap permasalahan dalam pembelajaran, yang dikemukakan pada identifikasi masalah, maka peneliti  melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut sehingga diperoleh gambaran mengenai faktor-faktor penyebabnya, di antaranya:
Untuk  mata pelajaran eksak (IPA), diantaranya:
1.      Dalam pelaksanaan pembelajaran masih belum mengarah pada tujuan siswa, serta situasi lingkungan belajar siswa.
2.      Desain pembelajaran masih bersifat klasikal, sehingga kurang memunculkan aktifitas belajar pada siswa.
3.      Penggunaan media yang kurang maksimal sehingga dalam penafsiran konsep siswa masih mengalami kesulitan.
4.      Pengkondisian kelas yang kurang, mengakibatkan pembelajaran tampak kurang kondusif.
C. Rumusan Masalah
            Rumusan masalah merupakan hal yang sangat penting, karena merupakan bagian dari dasar sebuah penelitian. Dalam rumusan masalah yang peneliti akan kemukakan ini meninjau dari pemaparan identifikasi masalah dan hasil analisis masalah. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini di antaranya:
Untuk mata pelajaran eksak (IPA), di antaranya:
1.      Apakah penggunaan alat peraga  untuk materi jenis jenis hewan langka pada mata pelajaran IPA di kelas 6 Sekolah dasar, dalam rangka menigkatkan kualitas pembelajaran.
D. Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian ini merupakan upaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas 6 SD Negeri BARIBIS I. Sehingga berdampak pada kualitas pembelajaran dengan ditunjukkan adanya peningkatan prestasi hasil belajar siswa, serta antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran. Penggunaan Pendekatan, metode, dan media yang tepat, diharapkan dapat membawa pembaharuan dalam pemberian inovasi pembelajaran. Adapun tujuan dari perbaikan adalah:
1.      Siswa dapat diberikan pengalaman belajar yang bermakna melalui pengalaman belajar pada materi jenis jenis hewan langka di kelas 6 SD Negeri BARIBIS I.
2.      Siswa dapat menafsirkan konsep IPA yang sifatnya abstrak melalui pemanfaatan alat peraga  yang tepat guna.
E. Manfaat Penelitian
1.      Pelaksanaan pembelajaran dengan pola siklus secara berulang dapat membantu guru dalam menganalisis masalah yang terjadi dalam pembelajaran sehingga dapat ditemukan solusi alternatif dari permasalahan tersebut.
2.      Siswa dapat menikmati pembelajaran dengan adanya kegiatan belajar yang menarik.
3.      Sebagai bahan evaluasi guru dalam menganalisis kekurangan yang dimiliki dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan profesionalisme guru sebagai tenaga pengajar.
4.      Meningkatkan prestasi belajar siswa dengan pembelajaran yang bermakna demi tercapainya tujuan pendidikan.
F. Hipotesis : Penggunaan alat peraga untuk meningkatkan penguasaan siswa tentang jenis-jenis hewan yang mendekati kepunahan dalam pelajaran IPA kelas VI SDN BARIBIS I
G. Kajian Pustaka
1. Pembelajaran IPA di SD
IPA memiliki peranan penting dalam berbagai lapangan kehidupan. Banyak persoalan dan kegiatan hidup yang memerlukan kemampuan IPA. Dengan demikian, untuk menjawab pertanyaan “Apakah IPA itu?” tidak dapat dengan mudah dijawab dengan satu atau dua kalimat karena berbagai pendapat muncul tentang pengertian IPA dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda.
Ruseffendi, (1992 : 144) mengemukakan bahwa pembelajaran IPA sebaiknya lebih mengutamakan kepada pengertian, sehingga IPA dapat lebih mudah dipelajari dan menjadi lebih menarik. Agar siswa dapat lebih memahami dan menguasai suatu konsep dengan baik, maka representasinya sebaiknya dimulai dengan benda-benda konkrit yang beraneka ragam, Ruseffendi juga percaya bahwa semua abstraksi yang berdasarkan kepada situasi dan pengalaman konkrit, adalah suatu prinsip bila diterapkan oleh guru untuk setiap konsep yang diajarkan akan menyempurnakan penghayatan siswa terhadap konsep itu.
Selanjutnya Ruseffendi, (1992 : 125) menyatakan bahwa, (a)  Siswa dalam belajar IPA harus melalui memanipulasi benda-benda konkrit dan membuat abstraksinya dari konsep atau struktur, (b) Agar siswa memperoleh sesuatu dari belajar IPA siswa harus mampu mengubah suasana konkrit ke dalam perumusan abstrak dengan menggunakan simbol.
Jarome Bruner sebagaimana Ruseffendi (1992 : 109) menyatakan bahwa belajar IPA akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan. Bruner juga mengungkapkan bahwa dalam proses belajar siswa sebaiknya di beri kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Dengan alat peraga tersebut, siswa dapat melihat langsung bagaimana keteraturan serta pola yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya kemudian oleh siswa dihubungkan dengan keteraturan intuitif yang telah melekat pada dirinya.
Berdasarkan kedua pendapat ahli tersebut di atas mengisyaratkan bahwa agar siswa dalam mempelajarai suatu konsep supaya lebih mengerti dan bermakna, maka dalam mengajarkan konsep itu harus mengaktifkan siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun sosial. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan alat peraga berupa benda-benda konkrit yang sesuai dengan materi pelajaran.
Alat peraga dalam IPA adalah suatu media atau alat yang dapat mempermudah siswa memahami suatu konsep. Dengan bantuan alat peraga yang sesuai siswa mendapat kesempatan terlibat dalam proses pengamatan yang akan menimbulkan besar minat, dibantu daya tilik sehingga lebih mengerti dan lebih besar daya ingat serta supaya siswa dapat melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan alam sekitarnya dalam belajar IPA. Pada akhirnya siswa menyenangi IPA karena sesuai dengan perkembangannya.
2.Media dan Alat Peraga
Salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar siswa yaitu adanya alat peraga dan media pembalajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.  Menurut Ruseffendi ( 1992 : 147 ), alat peraga yaitu alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep IPA, seperti benda-benda berupa kubus, gelang, drum, tangga garis bilangan, dan lain sebagainya. Untuk memahami konsep abstrak anak memerlukan benda-benda konkrit sebagai perantara atau visualisasinya. Selanjutnya konsep abstrak yang baru dipahaminya yaitu akan mengendap, melekat, dan tahan lama bila ia belajar melalui pengalaman, bukan hanya melalui mengingat-ingat fakta.
Menurut Ruseffendi (1992: 147) beberapa manfaat dari pemakaian alat peraga dalam pengajaran IPA di antaranya :
1.      Dapat meningkatkan minat siswa.
2.      Membantu daya titik ruang.
3.      Supaya dapat melihat hubungan antara ilmu yang dipalajari dengan lingkungan alam sekitar.
4.      Mengundang berdiskusi, berfikir, berpartisipasi aktif, memecahkan masalah dan sebagainya.

3.Fungsi ALat Peraga
Alat peraga memiliki fungsi sebagai berikut :
a.         Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar yang kondusif
b.         Dengan alat peraga siswa akan tenang belajar matematika.
c.         Dengan alat peraga bisa menghilangkan rasa jenuh dan bosan pada siswa.
d.        Dengan alat peraga siswa lebih cepat memahami konsep matematika.
e.         Sesuai dengan tingkat kecerdasan anak SD dalam memahami konsep masih butuh penjelasan secara kongkret yaitu melalui alat peraga.

4.Penggunaan Alat peraga Dalam pelajaran IPA
Siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar  daya pikirnya masih bersifat konkret, hal ini sesuai dengan tiori Jeans Piaget, bahwa anak yang umurnya 7 sampai 12 tahun berada dalam tahap operasional konkret,oleh karena itu penggunaan alat peraga sangat dibutuhkan, dan dengan alat peraga mampu menghilangkan daya piker yang verbalisme.
Penggunaan alat peraga dalam pelajaran IPA sangat diperlukan untuk mengetahui konsep- konsep IPA, dimana didalam pelajaran IPA diperlukan obsevasi (pengamatan), ekperimen, (percoabaan untuk membuktikan benar tidaknya tentang konsep IPA
Penggunaan alat peraga khususya dalam pelajaran IPA tentang Jenis-jenis hewan yang akan punah diperlukan alat peraga misalnya saja dengan alat peraga gambar .Hal tersebut bisa membawa suasana pembelajaran lebih konkret dan bermakna.

H. Rencana Dan Prosedur Penelitian
1.    Rencana Penelitian
a.    Subjek penelitian
                               Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas  VI SDN MEONG CONGKOKkecamatan Ganggarangan, Kabupaten Majalengka. Pertimbangan penulis mengambil subyek penilitiann tersebut dimana siswa kelas IV telah mampun dan memiliki kemandirian dalam mengerjakan soal soal latihan maupun tes akhir setelah pembelajaran melalui penggunaan alat peraga. 
b.    Tempat  Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di SD Negeri BARIBIS I, kecamatan Ganggarangan Kabupaten Majalengka penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek penlitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
c.    Waktu Penelitian
                   Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 2 bulan.
d.   Lama Tidakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan mulai dari siklus I, dan Siklus II
2.    Prosedur Penelitian
  Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
a.    Perencanaan
Meliputi penyampaian materi pelajaran, latian soal, pembahasan latian soal, tugas pekerjaan rumah , pembahasan PR, ulangan harian.
b. Tindakan ( Action )/ Kegiatan, mencakup
1. Siklus I, meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.
2. Siklus II ( sama dengan I )
3. Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus – siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

3.         Jadwal penelitian
No
KEGIATAN
MINGGU KE……..
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Perencanaan
 X











2
Proses pembelajaran

 X










3
Evaluasi


 X









4
Pengumpulan Data



 x








5
Analisis Data




 x







6
Penyusunan Hasil





 x






7
Pelaporan Hasil






 x






A.       Daftar Pustaka
 Anitah w, sri.(2007), Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas    Terbuka
            Bhakti, Darma. (2006), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI. Jakarta: Dharma Bakti.
Haryanto (2004). IPA SD kelas VI, Jakarta: Erlangga.
            Herry H,Asep,dkk.(2006).Perkembangan Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
           Rositawaty. S. ( 2008). IPA kelas VI  Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar